Bandung, Ansor Jabar Online
Ranting NU Desa Maruyung, Kecamatan Pacet, Kabupaten Bandung melaksanakan santunan yatim piatu tiap 10 Muharam. Kegiatan yang dirangkai tahlilan akbar warga Maruyung tersebut, tahun ini berlangsung di Pondok Pesantren Darun Ni’am pada Sabtu (5/7/2025).
Menurut Ketua Ranting NU Desa Maruyung KH Umar Abdul Aziz, santunan yatim piatu tersebut sudah berlangsung 12 tahun, yaitu sejak kepengurusan Ketua Ranting NU KH Abdul Ghani.
“Jadi, kita melanjutkan tradisi yang berlangsung tiap tahun. Selama kepengurusan saya pun tak pernah absen,” katanya kepada NU Online Jabar, Senin (7/7/2025).
Pada awalnya, kata salah seorang pengasuh Darun Ni’am tersebut, santunan dimulai dengan khitanan massal yatim piatu yang diikuti puluhan anak.
“Sekarang mah paling sering santunan yatim piatu,” katanya, “dulu hanya diikuti puluhan anak, sekarang ratusan anak,” tambahnya.
Menurut dia, tahun ini, NU Ranting Maruyung menyantuni 153 anak. Rata-rata tiap tahun tidak kurang dari 100 anak. Bahkan pernah lebih 200 anak.
Ia menjelaskan, sumber biaya santunan diperoleh dari sumbangan Nahdliyin, para aghniya, dan tentu saja para pengurus NU Ranting Maruyung.
Kiai Umar menambahkan, ada beberapa kegiatan rutin yang dilaksanakan NU Ranting Maruyung selain santunan yatim piatu dan tahlilan akbar, yaitu ziarah kepada para ulama.
“Ziarah ini terbagi dua, ke luar daerah Bandung dan ke para ulama di Maruyung.”
Untuk ziarah di lingkungan Maruyung, lanjutnya, diperuntukkan kepada murid-murid Madrasah Diniyah Takmiliyah. Tujuannya memperkenalkan perjuangan, teladan, dan profil para ulama di Maruyung kepada anak-anak.
“Di Maruyung ada 16 madrasah dengan jumlah murid tak kurang 500 anak. Mereka diperkenalkan kepada ulama-ulama Maruyung tiap bulan Sya’ban atau seminggu sebelum puasa,” jelasnya.
Ia merinci, ulama-ulama yang diziarahi anak-anak MDT Maruyung, yaitu para masyayikh Pondok Pesantren Baitul Arqom: KH Muhammad Faqih (Mama Faqih), KH Ubaidillah, KH Ali Imron, KH Yusuf Salim.
Lalu, berziarah ke KH Abdus Syukur di Pondok Pesantren An-Nur. Terus ke makam KH Hilman Yahya di Astana Ageung dan ke KH Nu’man Faruq di Pondok Pesantren Assalam, dan ke KH Abdurrahman.
Santunan yatim piatu tahun ini dikemas dengan sejarah NU Bandung yang di dalamnya disampaikan tentang informasi kehadiran tokoh NU Maruyung yang didokumentasikan majalah Berita Nahdlatoel Oelama dan koran Sipatahoenan. Sejarah tersebut dikemukakan Redaktur Sejarah NU Online PBNU, Abdullah Alawi.
Tak lupa, hadir pada malam Tahlilan Akbar tersebut, Ketua MWCNU Kecamatan Pacet yang juga pengasuh Pondok Pesantren Darun Ni’am KH Abdul Ghani, Wakil Rais Syuriyah MWCNU Kecamatan Pacet KH Ruslan Faruq, Camat Kecamatan Pacet Asep Susanto, Kepala Desa Maruyung Apen Supendi Noval, serta Nahdliyin dan para santri Maruyung.
Pewarta: Abdullah Alawi























