Pasca pernyataan kritik terhadap kebijakan Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, yang berkaitan dengan pesantren, Ketua GP Ansor Jawa Barat, H. Subhan Fahmi, mendapat respons negatif berupa serangan dari sejumlah warganet. Menanggapi dinamika tersebut, Dzikri Abazis, Pengurus Ansor Jawa Barat Bidang Politik Kerjasama dan Pengembangan Organisasi, menyampaikan bahwa pihaknya tidak terpengaruh oleh tekanan publik di ruang digital dan tetap konsisten dalam memperjuangkan kepentingan pesantren dan masyarakat.
Dalam pernyataan tertulis yang disampaikan melalui pesan WhatsApp, Dzikri menyebut bahwa saat ini Gubernur Dedi Mulyadi tengah menikmati dukungan politik yang luas, utamanya melalui media sosial. Menurutnya, kemampuan Dedi dalam memanfaatkan platform digital turut menjadi faktor penting dalam pencapaian elektoral yang signifikan pada pemilihan lalu.
Besarnya dukungan dari warganet terhadap KDM telah membentuk rasa percaya diri yang tinggi dalam pengambilan kebijakan, termasuk kebijakan strategis yang menyangkut ekosistem pesantren,” ujar Dzikri.
Sebagai bagian dari masyarakat Jawa Barat dan individu yang memiliki kedekatan historis dengan pesantren, Dzikri menekankan pentingnya kontrol sosial terhadap setiap kebijakan publik yang berpotensi menimbulkan polemik. Ia menegaskan bahwa dukungan elektoral seharusnya tidak menjadikan seorang kepala daerah anti-kritik.
Kami berharap Gubernur tetap berada pada jalur yang tepat. Besarnya dukungan publik jangan sampai menjadi sumber euforia politik yang berujung pada kebijakan yang tidak berpihak kepada komunitas pesantren,” tegasnya.
Dzikri juga mengingatkan bahwa kritik adalah bagian dari mekanisme demokrasi yang sehat. Ia mengaku tidak terpengaruh oleh serangan warganet, sebab kritik serupa pernah terjadi ketika GP Ansor mengoreksi kebijakan gubernur sebelumnya, Ridwan Kamil.
“Kami sudah terbiasa diserang ketika menyuarakan kebenaran. Yang penting, setiap langkah kami mendapatkan restu dari para kiai dan berpijak pada kepentingan masyarakat luas,” ujarnya.
Dalam konteks tersebut, Dzikri mengajak masyarakat, khususnya warganet, untuk merefleksikan pengalaman masa lalu dalam relasi antara pejabat publik dan ekspektasi media sosial. Ia menyinggung sosok Ridwan Kamil yang sempat menjadi figur populer di media sosial, namun kini menghadapi berbagai tantangan yang memengaruhi citranya.
Dulu RK dielu-elukan karena pendekatan populisnya di media sosial. Tapi hari ini, ia menghadapi tekanan yang tidak ringan. Ini menjadi pelajaran bahwa popularitas tidak bisa menjadi satu-satunya indikator keberhasilan seorang pemimpin,” ujarnya.
Dzikri menegaskan bahwa GP Ansor Jawa Barat akan selalu bersikap proporsional dan rasional dalam menyikapi kebijakan pemerintah daerah. Segala keputusan yang diambil akan mempertimbangkan aspirasi umat, masukan para ulama, serta relevansi dengan nilai-nilai yang diperjuangkan organisasi.
Kritik akan tetap disampaikan secara konstruktif apabila sebuah kebijakan dinilai menyimpang dari kepentingan pesantren dan masyarakat. Kami tidak akan bersikap reaktif, tetapi jika diperlukan, kami siap mengambil posisi tegas,” tutupnya.
























