Oleh: Ilham Abdul Jabar
Editor Ansor Jabar Online
“Waktu adalah kehidupan yang tak akan kembali. Uang adalah titipan yang harus dipertanggungjawabkan. Dan keringat adalah saksi: bahwa kita pernah hidup untuk sesuatu yang lebih besar dari diri sendiri.”
Kang Yayan Bunyamin, Agama Kerja, hlm. 68
Kalimat pembuka ini bukan sekadar perenungan, tapi sebuah tamparan halus di tengah budaya hidup instan yang hari ini sedang menjangkiti banyak kalangan, terutama generasi muda yang tumbuh dengan serba dilayani.
Dalam buku Agama Kerja, Kang Yayan membongkar makna keringat dari yang semula dianggap biasa menjadi sesuatu yang filosofis dan bahkan bernilai ibadah. Ia menulis.
“Keringat bukan hanya uap air yang keluar dari tubuh. Ia adalah bahasa diam dari kerja. Yang mengandung cerita tentang waktu yang dikorbankan, tenaga yang dicurahkan, dan harapan yang dipertaruhkan. Setiap tetesnya adalah syahadat dalam bentuk paling sunyi.”
Ini bukan jenis tulisan motivasi biasa. Kang Yayan menempatkan kerja sebagai bagian dari kehidupan spiritual, bukan sekadar ekonomi. Bekerja itu tidak cuma mencari uang, tapi menunaikan amanah waktu yang akan dihisab. Dan keringat, adalah bukti paling jujur dari pemanfaatan waktu itu.
Sayangnya, filosofi ini terasa asing di tengah generasi yang akrab dengan slogan “kerja cerdas, bukan kerja keras”—yang sering kali ditafsirkan secara keliru jadi “hindari peluh, cari hasil cepat.”
Tak bisa dipungkiri, Gen-Z adalah generasi yang cepat belajar, adaptif terhadap teknologi, dan punya potensi luar biasa. Tapi di sisi lain, mereka juga tumbuh dalam ekosistem yang terlalu memanjakan. Algoritma membuat segala sesuatu datang ke layar tanpa harus dicari. Makanan datang tanpa harus masak. Hiburan datang tanpa harus keluar rumah. Akibatnya, banyak dari mereka yang terbiasa dilayani—dan ini pelan-pelan membentuk mentalitas yang alergi terhadap proses panjang.
Bukti paling nyata terlihat di data. Badan Pusat Statistik (BPS) 2024 mencatat bahwa pengangguran terbesar di Indonesia berasal dari kelompok usia 20–29 tahun. Menariknya, bukan karena tidak ada lapangan kerja, tapi karena banyak yang gengsi untuk mengambil pekerjaan yang dianggap “tidak cocok dengan citra diri”.
Sementara itu, laporan Deloitte Global Gen-Z and Millennial Survey 2023 menyebut bahwa hanya 23% Gen-Z yang merasa pekerjaannya bermakna. Sebagian besar merasa tidak puas, cepat bosan, dan ingin pindah kerja jika tidak cepat mendapat hasil.
Padahal dalam Islam, seperti yang ditulis Kang Yayan, “kerja yang jujur adalah salah satu bentuk pemanfaatan waktu terbaik.” Bukan sekadar hasil yang dihargai, tapi kejujuran dan ketaatan dalam proses kerja itu sendiri.
Buku ini juga mengingatkan kita pada sejarah kerja keras yang membangun peradaban Islam. Nabi Muhammad ﷺ tidak hanya menyampaikan wahyu, tapi juga ikut menggali parit dalam Perang Khandaq, membangun masjid, berdagang, dan berdiplomasi. “Sejarah Islam tidak dibangun oleh orang-orang pemalas. Ia dibangun oleh orang-orang yang bekerja, berkeringat, dan berkorban,” tulis Kang Yayan.
Sahabat-sahabat Nabi juga sama. Abdurrahman bin Auf berdagang hingga jadi miliarder, tapi hartanya mengalir untuk dakwah. Salman Al-Farisi ikut menggali parit dengan tangannya. “Mereka semua berkeringat bukan untuk diri sendiri, tapi untuk umat.”
Keringat mereka menjadi warisan. Ia bukan sekadar membasahi tubuh, tapi membasahi sejarah. Keringat itu menjadi pondasi masjid, pasar, lembaga zakat, rumah pendidikan, dan bahkan sistem ekonomi yang berkeadilan.
Menurut saya, Agama Kerja bukan buku yang hanya cocok dibaca oleh para aktivis dan kalangan dewasa. Ia justru sangat relevan untuk dibaca oleh mahasiswa, content creator, freelancer, dan para pemuda yang sedang mencari makna kerja di zaman serba digital ini.
Kita tidak sedang mengagung-agungkan kelelahan. Tapi kita ingin menegaskan kembali, bahwa keringat adalah bukti cinta kepada kehidupan yang bermakna. Ia bukan kutukan, tapi kehormatan. Di tengah dunia yang memuja kenyamanan dan hasil instan, kerja keras yang jujur dan berkah adalah bentuk jihad yang nyata.
Dan barangkali, jawaban dari krisis pengangguran hari ini bukan selalu soal kebijakan ekonomi. Tapi tentang membangun ulang kesadaran etos kerja, agar generasi muda tidak hanya hidup untuk dilayani—tapi juga siap melayani, berkarya, dan membangun.
Karena pada akhirnya, seperti ditulis Kang Yayan dengan penuh ketenangan,
“Hidup bukan hanya untuk dilalui, tetapi untuk dijalani dengan kesungguhan dan bermaknaan.”



























