Oleh Imam Mudofar
Sebagai seorang “karyawan,” saya kerap kali merasakan kejenuhan atas rutinitas yang begitu-begitu saja. Berangkat pagi. Pulang sore. Bahkan malam. Setiap hari berpacu dengan target. Berjibaku dengan proyeksi yang sudah ditentukan oleh perusahaan. Satu-satunya yang menggembirakan adalah tiba saat gajian di akhir bulan.
Situasi yang sama juga sempat dirasakan tatkala berdagang. Seminggu dua kali ambil belanjaan. Setiap hari sibuk dengan persiapan-persiapan dagangan. Menghitung kepingan uang receh yang terkumpul dari uang jajan. Laris, senyum. Tak laku, bingung. Barangkali situasi itu juga kerap dialami oleh kawan-kawan sekalian. Jika hidup hanya dimaknai sebagai rutinitas sebuah pekerjaan, tentu akan sangat membosankan.
Tapi ternyata bekerja tidak melulu soal mencari nafkah dan berburu upah. Bukan semata-mata soal kelaziman, tapi manifestasi cinta dalam balutan keimanan. Kita akan benar-benar tahu jika kerja lebih dari sekedar itu semua setelah kita khatam membaca “Agama Kerja.”
Selesai membaca, kita akan menemukan oase di tengah badai gurun optimisme hidup yang kian meredup. Buku ini betul-betul membuka mata batin kita untuk merekonstruksi kembali niat dan makna “kerja.” Kerja tak melulu urusan duniawi. Ada unsur “ukhrowi” yang juga mesti kita capai.
Dari mulai prolog: “Kerja: Jalan Sunyi Menuju Langit,” pikiran kita akan dicabik-cabik sedemikian rupa. Kita dibangunkan dari tidur panjang yang meninabobokan kelalaian kita sebagai seorang manusia sekaligus hamba. Ajengan Yayan Bunyamin ( Rama Qaisra ) berhasil membangun kesadaran kita dengan bahasa yang kontekstual, renyah dan puitis. Kita diajak menyelam, sekaligus menari-nari di kedalaman samudera narasi yang disusun secara rinci.
Sebagai seorang laki-laki, suami, ayah, sekaligus pencari nafkah, kata-kata ini cukup membuat gairah dan semangat saya kembali tergugah. “Kerja adalah doa yang tak bersuara, sujud yang tak terlihat, dan cinta yang ditanam diam-diam di ladang tanggungjawab.” Jleb. Sampai ke ulu hati. Setiap gerak langkah yang kita niatkan untuk mencari nafkah yang halal dan berkah adalah ibadah.
Bagi kawan-kawan yang masih (betah) nganggur, membaca buku ini dapat menyadarkan kita ternyata harga diri seorang manusia adalah kerja. Sedangkan puncak dari penghambaan adalah pasrah. Bagi pencari kerja yang belum bertemu dengan hasilnya, mengeja setiap kalimat dalam buku ini akan menjauhkan kita dari rasa putus asa. Dan bagi anda yang sudah berkerja dan merasa jenuh dengan rutinitas pekerjaannya, bersyukurlah. Setelah membaca buku ini, tata kembali niat anda.
Selain oase bagi optimisme yang hilang, Agama Kerja juga menjadi antitesis dari keresahan Prof. Amin Mudzakkir yang kerap kali mengeluh (dalam status-statusnya) tentang hidup sebagai seorang peneliti dan abdi negara yang ternyata begitu-begitu saja. Ternyata sekolah tinggi-tinggi itu penting. Setidaknya yang dituliskan oleh Ajengan Yayan ini buah dari sekolah tinggi yang setidaknya mampu memotivasi.
Resensi ini saya tulis sebagai bentuk apresiasi atas capaian Ajengan Yayan selaku kawan dekat kami. Bukunya kami baca di tengah rutinitas kerja, dan resensinya kami tulis sebagai peregangan jari yang sudah lama tak menuliskan kata-kata. Dan bagi yang berminat untuk membaca bukunya, silahkan langsung kontak penulisnya. Hatur nuhun
Singaparna, Juli 2025
Editor: Ilham Abdul Jabar




























