Jakarta, Ansor Jabar Online
Arus Informasi Santri Nusantara (AISNU) terus mempertegas peranannya sebagai jembatan peradaban ilmu di era modern. Melalui kegiatan bertajuk Ngaji Nusantara, AISNU menggelar pertemuan strategis dengan para dzuriat atau pengasuh-pengasuh muda pesantren se-Jakarta, Jawa Barat, dan Banten (disebut Janten Rahayu), yang dilaksanakan di Pondok Pesantren Luhur Al-Tsaqafah, Jakarta. Kegiatan ini juga melibatkan Nawaning serta JPPM Jawa Barat.
Sebagai komunitas yang mewadahi aspirasi dan potensi kader santri di bidang media, AISNU hadir bukan hanya untuk menjaga keberlanjutan nilai-nilai pesantren, tetapi juga untuk mendorong para santri dan pengasuh muda agar berkontribusi aktif dalam menjawab tantangan zaman melalui media yang edukatif, inovatif, dan inklusif.
“Untuk AISNU sendiri, sejauh ini sudah membangun narasi keberagaman dan bukan keseragaman, dalam arti saling berkolaborasi serta mengkampanyekan anti kekerasan seksual (KS) di lingkungan pesantren melalui konten media sosial,” ujar Ulinnuhaa Lazulfa Wakhusnaa Ma’ab, Koordinator Nasional AISNU 2024–2027.
“Isu kekerasan seksual ini adalah salah satu faktor yang membuat minat masyarakat terhadap pesantren menurun. Wajah pesantren jadi sorotan utama dan mengalami kemuraman,” tegasnya saat ditemui di Auditorium Pondok Pesantren Luhur Al-Tsaqafah, Minggu (27/7).
Pertemuan lintas daerah ini menjadi langkah strategis membangun kepemimpinan santri dan pengasuh muda yang berintegritas, serta menyusun langkah nyata menuju mercusuar peradaban ilmu. Salah satu inisiatif konkret yang diusung adalah pembentukan Satgas Sarungan (Satuan Tugas Anak Rombongan), yang digagas sebagai garda depan untuk menangani dan mengedukasi lingkungan pesantren terkait kekerasan seksual.
“Satgas Sarungan ini hadir untuk melatih dan menangani langsung kasus-kasus KS secara masif. Kita ingin para pengasuh muda sadar akan pentingnya ruang aman di pesantren,” tambah Cak Ulin, sapaan akrab Ulinnuhaa.
Kang Romzi Ahmad, selaku Pembina AISNU, turut menguatkan semangat tersebut. Dalam sambutannya, ia mendorong agar santri dan dzuriat pesantren naik kelas dan memperluas gelanggang perjuangan.
“Yang mana kita-kita ini, dzuriat pondok, tidak saja pantas mewarisi kejayaan pesantren tetapi sekaligus menjadi penerus waris kejayaan itu,” tegas Kang Romzi Ahmad di hadapan para pengasuh muda, Minggu (27/7).
Dirinya mengingatkan, bahwa peradaban tidak dibangun dengan diam. Santri harus percaya diri dan menjadi pengobar semangat zaman.
Senada dengan hal tersebut, Prof. Dr. KH. Said Aqil Siroj, pendiri Pondok Pesantren Luhur Al-Tsaqafah, turut memberikan catatan penting dalam konteks kebangkitan santri.
“Santri itu mesti sadar dengan tantangan zamannya, di tengah kemandekan intelektual dan kezaliman intelektual,” ujar Kiai Said, menjelang Milad ke-12 Pondok Pesantren Luhur Al-Tsaqafah yang jatuh pada 28 Juli 2025.
AISNU kini tidak hanya hadir sebagai komunitas media santri, melainkan sebagai simpul perjuangan baru. Para dzuriat pesantren didorong untuk tampil aktif tidak hanya di ranah keagamaan, tetapi juga dalam isu sosial, budaya, politik, dan ekonomi. Mereka adalah generasi yang tumbuh dari rahim pesantren dan kini berpacu menuju mercusuar peradaban ilmu.
Pewarta: Abdul Majid Ramdhani
Editor: Ilham Abdul Jabar



























