Bandung,
Pimpinan Pondok Pesantren Baitul Hikmah Haurkuning Tasikmalaya, KH Busyrol Karim Zuhri, meminta alumni pesantren untuk aktif berkhidmah di Nahdlatul Ulama (NU).
Wakil Rais Syuriyah PWNU Jawa Barat tersebut menyampaikan hal demikian pada puncak Reuni Akbar, Haul Muassis, dan Harlah ke-26 Pondok Pesantren Darunni’am Al-Islami, Kecamatan Pacet, Kabupaten Bandung, yang berlangsung Senin-Selasa (17-18/11/2025).
Menurut KH Busyrol, pesantren adalah basis Ahlussunnah Wal-Jama’ah karena di dalamnya dikaji kutubut turats (kitab kuning), Al-Qur’an, hadis, jjma, dan qiyas. Oleh karena itu, keaktifan alumni di NU menjadi penanda sanad keilmuan yang jelas.
“Saya mengajak santri dan semua alumni supaya aktif di Nahdlatul Ulama. Kalau alumni aktif di NU, maka terbaca bahwa alumni itu memiliki manhaj yang jelas, cerdas, dan ini adalah cara memperbanyak keberkahan dari para ulama,” tegasnya.
Ia mengingatkan alumni untuk tidak sekadar aktif, tetapi juga ikut mengurus organisasi (struktural), seraya mengutip wasiat pendiri NU, Hadratussyekh KH. Hasyim Asy’ari: “Barangsiapa yang mau mengurusi NU, aku anggap menjadi santriku. Dan siapa yang menjadi santriku, saya doakan husnul khotimah beserta anak cucunya.”
9 Nilai Filosofis Santri
Dalam ceramahnya, Ajengan Haurkuning ini juga mengupas makna mendalam dari lambang sembilan bintang NU. Tidak hanya melambangkan Wali Songo atau para imam mazhab, ia menjabarkan sembilan nilai filosofis bagi santri:
Pertama, Salafiyatun: merujuk pada ajaran Ahlussunnah Wal Jama’ah yang mengikuti metode ulama salaf (sahabat, tabi’in).
Kedua, kholafiyatun: memahami agama ala ulama generasi belakangan dengan pendekatan rasional/ta’wil.
Ketiga, hikmatun: mengambil hikmah dan menyambungkan sanad keilmuan kepada pengarang kitab (seperti Syekh Salim Bin Sumeir pengarang Safinatunnaja atau Ibnu Malik pengarang Alfiyah).
Keempat, thoriqoh: mengikuti jejak guru dalam mendidik dan berjuang, tanpa perlu mencari tarekat yang justru memicu perpecahan.
Kelima, tsaqafa: memaknai keberagaman budaya santri yang berbeda-beda namun menyatu dalam satu wadah pesantren.
Keenam, iqtishodiyah: kemandirian ekonomi; santri harus mampu mengelola prinsip ekonomi Islami.
Ketujuh, tarbiyah: fokus pada pendidikan. Kedelapan, harakah: selalu bergerak (dinamis). Kesembilan, siyasah: melek politik.
Adab Alumni dan Ikatan Batin
Di hadapan ratusan alumni Darunni’am yang hadir, KH Busyrol juga menekankan pentingnya adab. Ia mengingatkan, meski alumni sudah menjadi tokoh, kiai, atau ustaz di kampung halamannya, saat kembali ke acara reuni pondok, status tersebut harus ditanggalkan.
“Ketika datang ke pesantren dalam acara reuni, jadilah santri biasa,” pesannya.
Kehadiran KH Busyrol dalam acara ini diakuinya bukan sekadar memenuhi undangan, melainkan karena ikatan batin yang kuat. Pimpinan Ponpes Darunni’am Al-Islami merupakan rekan seperjuangan di Pondok Pes Al-Ma’arif Bantar Gedang, Tasikmalaya. Bahkan, salah satu putra pimpinan Darunni’am pernah menjadi santri di Baitul Hikmah Haur Kuning.
Reuni Akbar dan harlah ke-26 ini dihadiri oleh para masyayikh, pengurus MWCNU Pacet, serta banom NU seperti Muslimat, Fatayat, Ansor, Banser, dan IPNU-IPPNU, serta jajaran Muspika Kecamatan Pacet.
Pewarta: Deden Syamsu Romli







