Demi Menyelamatkan Jam’iyah Pengajian, Banser Indramayu Terserempet Kereta Saat Bertugas

30

Tidak semua pengorbanan lahir dari medan perang.
Sebagian justru tumbuh dari tugas-tugas sunyi yang jarang dibicarakan, tapi risikonya nyata dan dekat dengan tubuh.
Peristiwa yang menimpa seorang anggota Banser di Indramayu menjadi pengingat akan hal itu. Saat menjalankan tugas pengamanan jam’iyah pengajian di wilayah Kertasmaya, ia terserempet kereta api. Bukan karena kelalaian, bukan pula karena nekat, melainkan karena berada di titik yang memang harus dijaga.
Ia mengalami luka-luka dan patah tulang. Ia selamat.
Namun tubuhnya mencatat harga dari sebuah tanggung jawab.

Bertugas dalam Sunyi, Bukan Mencari Sorot

Banser tidak pernah disiapkan untuk menjadi tontonan.
Ia hadir ketika jamaah duduk bersila, ketika doa dilantunkan, dan ketika pengajian berlangsung tenang. Di saat itulah Banser berdiri—mengatur lalu lintas, menjaga perlintasan, memastikan jamaah bisa datang dan pulang dengan aman.
Pada pengajian di Kertasmaya, lokasi kegiatan berdekatan langsung dengan jalur kereta api. Itu bukan titik aman, tapi justru titik yang harus dijaga. Anggota Banser tersebut bertugas mengatur arus jamaah dan kendaraan agar tidak melintas sembarangan saat kereta lewat.
Di tengah menjalankan tugas itulah kereta melintas dan tubuhnya terserempet. Peristiwa terjadi cepat. Namun satu hal jelas: pada saat itu, jalur tetap terkendali dan jamaah tidak menjadi korban.
Tak ada yang merencanakan kecelakaan.
Tak ada pula niat mempertaruhkan diri.
Yang ada hanyalah tugas yang dijalankan sampai batas kemampuan manusia.

Jam’iyah Pengajian dan Makna Menjaga

Dalam tradisi Nahdlatul Ulama, jam’iyah pengajian bukan sekadar acara rutin. Ia adalah ruang bertemunya ilmu, adab, dan kebersamaan. Menjaganya berarti menjaga ketertiban, keselamatan, dan kenyamanan umat.
Bagi Banser, menjaga bukan slogan. Ia adalah laku. Maka pengamanan bukan sekadar berdiri dengan rompi loreng, tetapi kesadaran bahwa keselamatan jamaah adalah amanah yang harus didahulukan.
Peristiwa ini memperlihatkan kenyataan di lapangan: banyak tugas pengamanan dijalankan dengan fasilitas terbatas dan mengandalkan kewaspadaan personal. Di titik-titik rawan seperti perlintasan kereta, risiko itu menjadi sangat nyata.
Dan Banser berdiri tepat di sana.

Hormat dan Tanggung Jawab Bersama

Peristiwa ini bukan sekadar kabar kecelakaan.
Ia adalah peringatan.
Peringatan bahwa pengamanan kegiatan keagamaan membutuhkan perhatian serius, koordinasi yang matang, dan standar keselamatan yang jelas. Mengandalkan keberanian relawan semata bukanlah solusi.
Penghormatan kepada Banser yang terluka tidak cukup dengan simpati. Ia harus diterjemahkan menjadi tanggung jawab bersama—agar pengabdian tidak selalu dibayar dengan tubuh yang cedera.

Penutup

Banser Indramayu itu tidak mencari sensasi.
Ia tidak sedang mengejar gelar pahlawan.
Ia hanya menjalankan tugasnya.
Dan pada hari itu, di Kertasmaya, tubuhnya menjadi bukti bahwa di balik tenangnya sebuah pengajian, ada orang-orang yang berdiri di titik paling rawan. Menjaga agar orang lain selamat, meski dirinya sendiri harus menanggung luka.