‎Gambaran Figur Siti Khadijah Versi Buku Al-Amīn, Jejak Bisnis Sang Raḥmatan lil-‘Ālamīn

39

Oleh Ilham Abdul Jabar

‎Dari sekian banyak bab dalam buku Al-Amīn: Jejak Bisnis Sang Raḥmatan lil-‘Ālamīn, karya Ajengan Yayan Bunyamin, Ketua Pimpinan Wilayah Rijalul Ansor Jawa Barat ini, saya paling menyukai Bab IV yang berjudul “Bisnis, Reputasi, dan Cinta.” Di bagian ini, Aj Yayan Bunyamin menggambarkan bagaimana cinta antara Nabi Muhammad  SAW dan Siti Khodijah bukan sekadar kisah romantis, tapi kisah dua insan yang menyatukan iman, bisnis, dan perjuangan.

‎Siti Khodijah digambarkan bukan sebagai pelengkap hidup Nabi, melainkan mitra sejajar.

‎Sebelum menikah, Siti Khodijah sudah menjadi saudagar perempuan paling terpandang di Mekah, punya jaringan perdagangan luas, reputasi bersih, dan modal besar. Tapi yang istimewa dalam dirinya bukan itu, melainkan caranya menilai manusia. Ia tak jatuh cinta pada ketampanan Muhammad, tapi pada reputasi dan integritasnya‎
‎Dalam buku itu diceritakan, sebelum memutuskan menikah, Khodijah menguji kebenaran kabar tentang “Muhammad Al-Amīn” dengan cara cerdas: mengajaknya kerjasama dan mengutus pegawainya, Maisarah, untuk mengamati langsung perilaku Muhammad di perjalanan dagang. Dari situlah ia tahu, lelaki itu memang berbeda. Jujur, amanah serta ahli dalam berbisnis. Dari situlah cintanya tumbuh dan langsung meminang Muhammad Al-Amīn itu.

‎Setelah menikah, keduanya membangun rumah tangga yang juga menjadi pusat kegiatan ekonomi. Rumah mereka bukan hanya tempat tinggal, tapi juga ruang kerja, tempat strategi dagang disusun, dan kelak menjadi markas pertama dakwah Islam. Cinta mereka tak terpisah dari kerja keras. Muhammad menjadi manajer andal yang dipercaya sepenuhnya, sementara Khodijah menjadi pemodal dan penyokong penuh.

‎Namun, Bab IV ini tidak berhenti di kisah kejayaan. Aj Yayan juga menulis dengan jernih tentang masa-masa sulit, ketika Mekah dilanda paceklik, saat keluarga-keluarga Quraisy kesulitan bertahan hidup. Rasulullah dan Khodijah tidak larut dalam kemewahan, mereka justru menggunakan hartanya untuk membantu, memerdekakan budak, dan menopang dakwah. Sampai akhirnya datang ujian besar, ya.. boikot Quraisy yang memaksa kaum musliminin bertahan di lembah sempit Syi‘ib Abu Thalib.

‎Di bagian ini, buku terasa sangat menyentuh. Khodijah, perempuan bangsawan yang dulu hidup dalam kenyamanan, rela tidur di tanah, menahan lapar, dan menjual seluruh hartanya demi mendampingi suaminya. Seluruh kekayaan yang pernah ia punya habis untuk perjuangan. Tubuhnya melemah, tapi hatinya tetap kokoh. Cintanya kepada Nabi bukan cinta yang menuntut, melainkan cinta yang menopang.

‎Aj Yayan mengakhiri bab ini dengan kisah menggetarkan, malaikat Jibril datang menyampaikan salam Allah untuk Khodijah dan kabar gembira bahwa surga telah disiapkan baginya “rumah dari mutiara, tanpa kebisingan dan tanpa penderitaan.” Sebuah penutup yang manis dan pantas untuk seorang perempuan yang seluruh hidupnya dipersembahkan untuk dakwah dan kepatuhan terhadap suami.

‎Membaca bab ini membuat saya memandang Siti Khodijah dengan cara baru. Ia bukan hanya istri Nabi, tapi perempuan tangguh yang tahu arti cinta sejati, menyerahkan segalanya tanpa mengharap imbalan. Dalam dunia yang sering menilai cinta dari harta dan rupa, kisah Khodijah adalah pengingat bahwa cinta yang benar tumbuh dari kejujuran, kepercayaan, dan iman.

‎Salam ta’dzim saya untuk penulis. Terimakasih, sudah berkenan menuangkan pengetahuannya mengenai jejak dan kiprah Rasulullah khusus di bidang entrepreneurship.