Islah Al Maal Karya Ibn Abi Dunya: Antara Tangan Bekerja dan Hati Bertaqwa

27

Dalam perjalanan saya membaca kitab Iṣlāḥ al-Māl karya Ibn Abī al-Dunyā, saya menemukan satu bab yang terasa sangat dekat dengan kehidupan kita hari ini: bab tentang kerja dan profesi (Bāb al-Iḥtirāf). Bab ini mengumpulkan nasihat-nasihat berharga dari para sahabat dan tabi‘in soal bagaimana seharusnya seorang Muslim mencari nafkah. Dan jujur, saya merasa bab ini bukan sekadar kumpulan teks lama—tapi semacam alarm moral di tengah dunia kerja modern yang kadang kehilangan arah.

Ada satu riwayat dari Ibn Masʿūd yang cukup menampar saya secara pribadi:

إِنَّ الرَّجُلَ مِنْكُمْ لَيَخْرُجُ فِي طَلَبِ شَيْءٍ مِنَ الرِّزْقِ، فَيَلْقَى فِيهِ حَاجَتَهُ، فَيَقُولُ: هَذَا مِنْ رِزْقِ اللَّهِ، فَيَجْمَعُ إِلَيْهِ رِزْقًا مِنْ حَرَامٍ، فَيَلْقَى اللَّهَ وَهُوَ عَلَيْهِ غَضْبَانُ

“Sesungguhnya salah seorang dari kalian keluar mencari rezeki yang halal, lalu mencampurnya dengan yang haram. Hingga ia akan bertemu Allah dalam keadaan Allah murka kepadanya.” (Iṣlāḥ al-Māl, no. 237)

Kalau dipikir-pikir, betapa sering kita tergoda untuk ‘sedikit saja’ melanggar batas, asal hasilnya cepat. Tapi ternyata, rezeki yang bercampur ini bisa membawa murka, bukan keberkahan.

Dalam riwayat lain, Khalid bin Maʿdān berkata:

إِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِعَبْدٍ خَيْرًا جَعَلَ لَهُ مَعِيشَةً مِنْ يَدِهِ

“Jika Allah menghendaki kebaikan bagi seorang hamba, maka Allah jadikan penghidupannya dari tangannya sendiri.” (no. 239)

Bagi saya, ini bukan sekadar pujian bagi pekerja keras. Ini pengingat bahwa kerja dengan tangan sendiri—mandiri, jujur, dan tidak bergantung—adalah tanda kebaikan dari Allah. Kita tidak perlu malu jadi petani, tukang bangunan, pedagang kaki lima, atau karyawan biasa. Justru di situlah letak mulianya—selama kita menjaga halalnya.

Ibnu ‘Umar sendiri bilang:

مَا تَرَكَ بَعْدَ الصَّلَاةِ شَيْئًا أَفْضَلَ مِنَ اطِّلَابِ الْحَلَالِ

“Tidak ada sesuatu setelah salat yang lebih utama daripada mencari penghidupan yang halal.” (no. 240)

Buat saya, ini luar biasa. Karena ternyata kerja halal itu bukan cuma kebutuhan, tapi bagian dari ibadah. Setelah kita rukuk dan sujud, Allah ingin kita berdiri dan bekerja—dengan cara yang bersih dan jujur.

Bab ini mengingatkan saya bahwa tangan yang bekerja harus selalu digandengkan dengan hati yang bertakwa. Jangan sampai kita sibuk cari rezeki, tapi lupa menjaga nilai. Karena pada akhirnya, kerja keras itu mulia tapi kerja halal, itu ibadah.

Ilham Abdul Jabar
Dewan Guru Pesantren Al Hikmah Mugarsari Kota Tasikmalaya. Redaktur Ansor Jabar Online