Konferensi Ansor, Kok Gitu?

122

Oleh : Idham Kholid

Konferensi, baik itu Konfercab untuk tingkat cabang/Kabupaten atau Konferwil tingkat wilayah/Propinsi atau bahkan Kongres untuk tingkat pusat. Biasanya menjadi ajang kegiatan organisasi yang dilaksanakan gede gedean. Tidak salah, karena sebagaimana PD/PRT konferensi di berbagai tingkatan adalah permusyawaratan tertinggi. Keputusan penting organisasi dibahas dan diputuskan dalam konferensi.

Salahsatu keputusan penting Konferensi adalah memilih pimpinan organisasi dan formatur yang akan melengkapi susunan konferensi. Saking “bergengsi” konferensi tidak jarang dilaksanakan selama berhari hari, bahkan berminggu-minggu. Kalau sampe “deadlock”, itu bisa berbulan bulan. Bertahun – tahun.

Ansor hari ini tidak memilih untuk menjadikan konferensi se sakral itu. Bukan berarti mendegradasi konferensi menjadi ajang yang tidak penting. Bukan.

Mufakat untuk bermusyawarah. Kalimat itu sering kali terdengar di Ansor. Dalam konteks pemilihan ketua, misalnya. Lebih konkritnya pemilihan Ketua Cabang, misal. Pengurus Wilayah tidak akan merekomendasikan Konfercab bila belum “selesai” mufakat antar pengurus. Tentang siapa yang akan dijadikan ketua. Bagi Ansor pemilihan ketua bukan tidak penting. Tapi seperti halnya pemilihan Paus di Vatikan, Ansor memilih konklaf untuk memilih ketua. Pemilihan ketua harus dikunci, jangan sampai ternodai oleh berbagai kepentingan yang membahayakan organisasi.

Menurut Ketua PW, Sahabat Fahmi, diberbagai kesempatan, selalu berpesan bahwa Energi Ansor jangan dihabiskan di Konferensi. Tapi harus di maksimalkan di kaderisaai misalnya. Atau diberbagai kegiatan pemeberdayaan lainnya.

Apalagi, tugas Ansor kedepan tidak lah mudah. Sahabat Ketua, Haji Deni, sudah mewanti wanti Ansor Jabar kudu sagala nyaho, sagala bisa tur sagala boga. Ulah sampai ka sagala menta.

Hal itu selaras dengan tagline PP Ansor. Ansor Bisa. Bussines dan Ekonomi, Inovasi, Sumberdaya dan Anak Muda. Kemandirian organisasi, pemberdayaan kader dan distribusi, menjadi core yang senantiasa selalu di ikhtiarkan.

Beban berat organisasi itu lah yang menjadi landasan atau paradigma Ansor bagaimana mengendalikan konferensi. Konferensi bukan menjadi ajang berseteru hanya karena siapa yang layak menjadi ketua. Konfrensi harus menjadi tempat dimana kita berefleksi dan mengevalusi diri. Serta memohon ampun kepada Allah, Rasulullah serta para Muassis juga para senior. Jangan-jangan apa yang sudah kata lakukan, jauh dari apa yang seharusnya kita laksanakan. Naudzubillah.

Maka, jarang sekali kita melihat tensi tinggi konferensi di Ansor. Tidak mungkin lah kita melihat pemandangan di Ansor, ada kader Ansor saling lempar kursi, kaca-kaca yang pecah atau fasiltas lainnya yang rusak dan menjadi korban. Padahal tidak jaminan konferensi yang begitu panas itu, menjamin organisasi kedepan lebih baik. Energi yang besar yang dihabiskan di konferensi biasanya berbanding lurus dengan besarnya biaya dan resiko yang ditimbulkan pasca itu. Yang artinya, program kerja yang disusun, hanya akan menjadi angan angan belaka. Karena upaya kita habis untuk menyelesaikan residu konferensi.