Kurangnya Pendidikan SQ dan EQ Dibalik Maraknya Korupsi di Indonesia

29

Belakangan ini, Indonesia dikejutkan oleh sederet kasus korupsi besar yang merugikan negara hingga triliunan rupiah. Mulai dari kasus korupsi Pertamina yang menyebabkan kerugian sekitar Rp 968,5 triliun, kasus PT Timah (Rp 300 triliun), BLBI (Rp 138 triliun), penyerobotan lahan PT Duta Palma Group (Rp 78 triliun), hingga kasus PT TPPI (Rp 37,8 triliun) dan masih banyak lagi.

Pandangan saya, fenomena ini bukan hanya mencerminkan kegagalan sistem pengawasan, tetapi juga menyingkap kegagalan pendidikan yang terlalu fokus pada kecerdasan intelektual (IQ) semata, tanpa memperhatikan kecerdasan spiritual (SQ) dan kecerdasan emosional (EQ).

Saya jelaskan sedikit sedikit ya… Korupsi itu pada hakikatnya bukan sekadar masalah kegagalan sisitem hukum atau ekonomi, melainkan masalah moral dan karakter. Pelaku korupsi semuanya orang-orang dengan IQ tinggi, bahkan berlatar belakang pendidikan terbaik. Namun, kecerdasan intelektual yang mereka miliki ternyata tidak mampu mencegah mereka dari tindakan serakah dan merugikan negara. Di sinilah pentingnya pendidikan SQ dan EQ sebagai penyeimbang kecerdasan intelektual.

Lalu apa peran SQ dan EQ dalam membangun karakter..?

Kecerdasan Spiritual (SQ) berfungsi sebagai fondasi moral dan etika. SQ mengacu pada kemampuan seseorang untuk memahami makna hidup, nilai-nilai spiritual, dan prinsip-prinsip moral. Dalam konteks korupsi, SQ berperan sebagai “rem” yang mengingatkan individu tentang batasan antara yang benar dan salah. Tanpa SQ, seseorang mungkin memiliki pengetahuan luas dan kemampuan analitis yang tinggi, tetapi tidak memiliki kompas moral yang kuat. Pendidikan SQ mengajarkan kejujuran, integritas, dan tanggung jawab sosial, nilai-nilai inilah yang sangat dibutuhkan untuk membangun karakter anti-korupsi.

Sementara itu, EQ berkaitan dengan kemampuan seseorang untuk mengelola emosi, berempati, dan membangun hubungan sosial yang sehat. Korupsi seringkali dimotivasi oleh keserakahan dan ketidakmampuan mengendalikan nafsu duniawinya. Dengan EQ yang kuat, seseorang dapat mengelola dorongan untuk mengambil keuntungan secara tidak sah, serta memahami dampak negatif dari tindakannya terhadap masyarakat luas. EQ juga mengajarkan pentingnya empati, sehingga pelaku potensial korupsi dapat merasakan penderitaan yang dialami oleh rakyat kecil.

Untuk mengatasi masalah korupsi yang sistemik, diperlukan pendekatan pendidikan yang holistik juga, pendidikan tidak boleh hanya berfokus pada pengembangan IQ melalui pelajaran matematika, sains, atau teknologi, tetapi juga harus menanamkan nilai-nilai SQ dan EQ sejak dini. Integrasi ketiga kecerdasan ini akan menciptakan generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki integritas moral dan kemampuan untuk berempati dengan sesama.

Dalam konteks ini, peran keluarga, sekolah, dan masyarakat sangat krusial. Keluarga harus menjadi lingkungan pertama yang menanamkan nilai-nilai kejujuran dan tanggung jawab. Sekolah perlu mengembangkan kurikulum yang mengintegrasikan pendidikan karakter dengan pembelajaran akademis. Sementara itu, masyarakat harus menciptakan budaya yang menghargai integritas dan mengutuk tindakan korupsi.

Ilham Abdul Jabar
Dewan Guru Pesantren Al Hikmah Mugarsari
Editor Ansor Jabar Online