Menebar Dakwah yang Santun sebagai Cerminan Islam Rahmatan Lil ‘Alamin

155

Oleh Riyan Haqi Khoerul Anwar
(Wakil Ketua MDS PC Rijalul Ansor Purwakarta)

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah SWT, yang telah memberikan kita nikmat iman dan Islam. Shalawat serta salam semoga selalu tercurah kepada Nabi Muhammad SAW, suri teladan kita dalam menebarkan ajaran Islam yang penuh hikmah, kasih sayang, dan kedamaian. Pada kesempatan ini, kita akan membahas bagaimana menebarkan dakwah yang santun sebagai wujud dari Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin, rahmat bagi seluruh alam.

Islam moderat di Indonesia merupakan bentuk pemahaman dan praktik keislaman yang mengedepankan nilai-nilai keseimbangan, toleransi, dan inklusivitas. Konsep ini bertumpu pada prinsip wasathiyah (moderasi) yang diajarkan dalam Islam, yaitu jalan tengah yang menghindari ekstremisme baik dalam bentuk radikalisme maupun liberalisme. Islam moderat di Indonesia mencerminkan karakter bangsa yang multikultural dan menghormati keberagaman.
Sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia, Indonesia memiliki sejarah panjang dalam membangun harmoni antara agama dan budaya lokal. Wajah Islam yang berkembang di Nusantara telah berbaur dengan tradisi dan adat istiadat setempat. Hal ini menciptakan corak keislaman yang ramah dan penuh toleransi. Organisasi keagamaan seperti Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah menjadi pilar penting dalam mempromosikan Islam moderat. Kedua organisasi ini menekankan pentingnya pendidikan, dialog antarumat beragama, serta komitmen terhadap keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Islam moderat di Indonesia juga menekankan pentingnya toleransi dalam kehidupan beragama. Prinsip ini terlihat dalam pengakuan terhadap enam agama resmi yang dianut masyarakat Indonesia dan perlindungan terhadap hak-hak minoritas. Pendekatan moderat ini menjadi fondasi dalam membangun kehidupan sosial yang harmonis di tengah kemajemukan. Namun, tantangan terhadap Islam moderat terus bermunculan. Meningkatnya penyebaran paham radikal, baik melalui media sosial maupun kelompok tertentu, menjadi ancaman nyata. Radikalisme seringkali memanfaatkan retorika agama untuk memecah belah masyarakat dan mengancam stabilitas bangsa. Oleh karena itu, diperlukan upaya bersama dari pemerintah, ulama, dan masyarakat untuk memperkuat pemahaman Islam moderat.

Selain itu, generasi muda menjadi kunci dalam menjaga keberlanjutan Islam moderat. Pendidikan agama yang inklusif dan berbasis nilai-nilai kebangsaan sangat penting untuk membangun generasi yang tidak hanya religius, tetapi juga berwawasan kebangsaan. Penguatan literasi digital juga diperlukan untuk menangkal propaganda radikal yang marak di dunia maya.
Islam moderat adalah aset berharga bagi Indonesia. Pendekatan ini tidak hanya mendukung kerukunan antarumat beragama, tetapi juga memperkuat posisi Indonesia di kancah global sebagai contoh negara Muslim yang damai dan toleran. Dengan memperkokoh nilai-nilai moderasi, Indonesia dapat terus menjadi model harmoni antara agama dan kebangsaan.

Islam bukan hanya sekadar agama, tetapi juga panduan hidup yang mencakup berbagai aspek kehidupan, termasuk cara berinteraksi dan menyampaikan ajaran kepada orang lain. Dakwah adalah salah satu pilar utama dalam menyebarkan keindahan Islam. Namun, agar pesan dakwah diterima dengan baik, pendekatan yang santun, bijak, dan penuh hikmah menjadi hal yang mutlak diperlukan.
Hakikat Islam sebagai Rahmatan Lil ‘Alamin adalah agama yang membawa rahmat bagi seluruh alam, sebagaimana firman Allah SWT:

وَمَۤاأَرْسَلْنٰكَ اِلاَّ رَحْمَةً لِّلْعَالَمِيْنَ
“Dan tidaklah Kami mengutus engkau (Muhammad), melainkan untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam.” (QS. Al-Anbiya: 107)

Ayat ini menunjukkan bahwa Islam hadir untuk membawa manfaat, kasih sayang, dan kedamaian bagi semua makhluk, baik manusia, hewan, maupun alam semesta. Sebagai umat Islam, kita memiliki tanggung jawab untuk mencerminkan nilai-nilai ini dalam setiap aspek kehidupan, termasuk dalam berdakwah.

Rasulullah SAW adalah teladan utama dalam menyampaikan Islam sebagai rahmat. Beliau selalu menebarkan ajaran Islam dengan akhlak yang mulia, kelembutan, dan toleransi, meskipun sering menghadapi penolakan dan perlakuan buruk dari kaumnya. Dakwah yang santun adalah dakwah yang dilakukan dengan penuh kesadaran akan pentingnya menghormati orang lain dan menyampaikan pesan dengan cara yang baik. Allah SWT berfirman:

أُدْعُ اِلَى سَبِيْلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِيْ هِيَ أَحْسَنُ

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik.” (QS. An-Nahl: 125)

Ayat ini menegaskan tiga prinsip utama dalam berdakwah. Yang pertama adalah Hikmah,
dakwah harus dilakukan dengan kebijaksanaan. Hikmah mencakup pemahaman yang mendalam tentang kondisi audiens, sehingga metode dan pendekatan yang digunakan dapat efektif. Rasulullah SAW selalu mempertimbangkan konteks budaya, latar belakang, dan kebutuhan orang-orang yang beliau dakwahi. Yang kedua adalah Pelajaran yang Baik, pesan dakwah harus disampaikan dengan cara yang lembut dan menarik, orang yang mendengarkan merasa begitu nyaman untuk menerima. Dakwah tidak menggunakan bahasa kasar, mencaci, atau merendahkan orang lain. Dakwah yang baik adalah dakwah yang menginspirasi, bukan yang memaksa atau menakut-nakuti. Selanjutnya Dialog dengan Cara yang Baik Jika terjadi perbedaan pendapat, maka berdiskusilah dengan sopan dan menghormati. Hindari perdebatan yang hanya memperkeruh suasana. Rasulullah SAW sering kali menggunakan dialog yang tenang dan penuh kelembutan untuk menjawab pertanyaan dan keraguan orang-orang.

Rasulullah SAW adalah contoh terbaik dalam menebarkan dakwah yang santun. Beberapa kisah Rasulullah yang menunjukkan bagaimana beliau menyampaikan Islam dengan penuh kasih sayang, diantaranya menghadapi orang Badui yang kasar. Dalam sebuah riwayat, seorang Arab Badui pernah masuk ke masjid dan buang air kecil di sana. Para sahabat segera memarahi orang tersebut, tetapi Rasulullah SAW menegur mereka dan berkata, “Biarkan dia, lalu bersihkan tempat itu dengan air. Sesungguhnya, kamu diutus untuk mempermudah, bukan mempersulit.” (HR. Bukhari dan Muslim). Kisah ini menunjukkan bagaimana Rasulullah SAW mengedepankan kelembutan dalam menghadapi tindakan yang tidak sesuai.

Rasulullah SAW memiliki seorang tetangga yang sering melemparkan kotoran ke halaman rumahnya. Suatu hari, ketika tetangga tersebut sakit, Rasulullah SAW menjenguknya. Sikap ini membuat tetangga tersebut tersentuh dan akhirnya masuk Islam. Dalam Perjanjian Hudaibiyah, Rasulullah SAW menunjukkan sikap diplomasi yang luar biasa. Meskipun isi perjanjian tampaknya tidak menguntungkan umat Islam, Rasulullah SAW tetap menerima dengan penuh kebijaksanaan demi menjaga perdamaian dan stabilitas. Tantangan dalam Menebar Dakwah yang Santun, dalam praktiknya, menebarkan dakwah yang santun tidak selalu mudah. Perbedaan pemahaman perbedaan dalam memahami ajaran Islam sering kali memicu konflik di kalangan umat Islam sendiri. Untuk mengatasi hal ini, diperlukan sikap saling menghormati dan dialog yang konstruktif.

Stigma Negatif tentang Islam di era modern ini, banyak pihak yang memiliki pandangan negatif tentang Islam akibat tindakan segelintir orang yang bertentangan dengan nilai-nilai Islam. Oleh karena itu, kita harus menunjukkan akhlak yang baik untuk meluruskan pandangan tersebut. Tidak semua orang memahami maksud dakwah dengan benar. Oleh karena itu, kita harus sabar dan konsisten dalam menyampaikan pesan dengan cara yang mudah dipahami. Strategi menebar dakwah yang santun untuk mengatasi tantangan tersebut, diantaranya mencontoh akhlak Rasulullah SAW sebagai pedoman dalam berdakwah. Selalu utamakan kelembutan, kesabaran, dan kasih sayang. Di era digital, media sosial menjadi alat yang efektif untuk berdakwah. Kita harus memiliki pemahaman yang mendalam tentang Islam, sehingga dapat menjelaskan ajaran dengan benar dan bijaksana Dakwah yang santun adalah dakwah yang inklusif, yang tidak hanya ditujukan untuk sesama Muslim, tetapi juga untuk non-Muslim. Tunjukkan bahwa Islam adalah agama yang mengajarkan perdamaian dan toleransi.

Menebarkan dakwah yang santun adalah wujud nyata dari Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin. Dakwah yang santun tidak hanya akan membuat pesan Islam lebih mudah diterima, tetapi juga akan mencerminkan keindahan ajaran Islam itu sendiri. Sebagai umat Islam, marilah kita terus berusaha untuk menyampaikan pesan-pesan kebaikan dengan cara yang terbaik, sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah SAW.
Semoga Allah SWT senantiasa memberikan kita kekuatan untuk menjadi pendakwah yang santun, bijak, dan penuh hikmah. Wallahu a’lam bish-shawab.