Musuh Baru Umat — Ketika Pedang Diganti dengan Narasi dan Buzzer

115

Oleh:.Abdullah Nawawi Mdz
Wakil ketua pw Ansor Jawa Barat bidang hub kepesantrenan dan majlis ta’lim

Dunia hari ini telah berubah. Musuh tidak lagi datang dengan pedang dan pasukan, tetapi dengan narasi, framing, dan buzzer yang menjual perpecahan. Mereka tidak menyerang lewat medan perang, tetapi lewat medan opini dan media sosial. Mereka tidak menebas tubuh, melainkan menikam kesadaran umat.

Fitnah kini dikemas rapi dengan kata “dalil”, ego dibungkus dengan “niat dakwah”, dan caci maki disamarkan dengan “amar ma’ruf nahi munkar.” Ironis, ketika ayat dan hadis digunakan bukan untuk menebar rahmat, tetapi untuk membenarkan amarah. Padahal, rahmat Allah hanya turun kepada yang lembut, bukan kepada yang sombong.

Umat yang dulu bersatu kini dipecah oleh framing dan sentimen. Mereka tahu, umat yang tercerai-berai tidak butuh dikalahkan — cukup dibiarkan saling menghancurkan diri. Perbedaan pandangan yang dulu menjadi rahmat kini berubah jadi bahan bakar permusuhan.

Media sosial menjadi arena baru peperangan batin, tempat emosi mengalahkan akal, dan ego menyingkirkan hikmah. Siapa yang paling keras suaranya, dialah yang dianggap paling benar. Padahal, dalam tradisi ulama, kebenaran tidak lahir dari teriakan, melainkan dari keikhlasan dan adab.

Inilah musuh baru umat — musuh yang tidak terlihat, tetapi terasa. Ia tidak menyerang dari luar, melainkan menyusup ke dalam hati. Ia membuat orang berilmu kehilangan akhlak, dan orang awam merasa paling tahu segalanya.

Saatnya kita kembali sadar, bahwa kekuatan umat bukan pada jumlah pengikut atau viralnya konten, melainkan pada persatuan hati dan kejernihan niat. Selama kita masih sibuk membid’ahkan, menyalahkan, dan mencaci, maka musuh yang sebenarnya telah menang — tanpa perlu mengangkat senjata.