Tiga Amanat Qonun Asasi Diungkap pada Pengajian Rutin NU Ranting Mekar jaya bandung

99


Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama (NU) Desa Mekarjaya kembali menggelar pengajian rutin bulanan. Kali ini, kegiatan dilaksanakan di Masjid Jami Al Ikhlas, Kampung Paninggaran, Desa Mekarjaya, Kecamatan Pacet, Kabupaten Bandung, pada Jum’at (21/11/2025).

Dalam kesempatan tersebut, Pimpinan Pondok Pesantren Syifaul Ulum Puncak Sari, Ustadz Khoeru Faruq, hadir sebagai penceramah utama. Ia menyampaikan intisari dari kitab Qonun Asasi fii Jam’iyati Nahdlatul Ulama yang dirumuskan oleh Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari.

Ustadz Khoeru menekankan tiga amanat penting yang menjadi pilar bagi warga Nahdliyin. Pertama, amanatun i’tiqodiyatun (amanat keyakinan). Ini adalah fondasi akidah yang harus dijaga oleh warga NU, meliputi tiga aspek utama:

Kesatu, iman (tauhid): berpegang teguh pada ajaran Ahlussunnah wal Jama’ah dengan mengikuti dua imam utama dalam akidah, yaitu Imam Abu Hasan Al-Asy’ari dan Imam Abu Mansur Al-Maturidi. Warga NU wajib memahami sifat-sifat Allah (Wajib, Mustahil, dan Jaiz).

Kedua, islam (fiqih): dalam beribadah, mengikuti salah satu dari empat madzhab (Imam Hanafi, Imam Maliki, Imam Syafi’i, atau Imam Hambali).

Ketiga, ihsan (tasawuf/akhlak): menjadikan Imam Junaid Al-Baghdadi dan Imam Al-Ghazali sebagai rujukan dalam membersihkan hati dan memperbaiki akhlak.

Kedua, Ustadz Khoru Faruq menekankan amanatunuUmmatiyah (amanat kemasyarakatan). Amanat ini menekankan pentingnya menjaga persatuan umat, baik secara lahir maupun batin.

“Sesuai dengan logo Nahdlatul Ulama, terdapat tali longgar yang melambangkan persatuan dan persaudaraan yang kokoh namun fleksibel, merangkul semua golongan,” jelas Ustadz Khoeru.

Ketiga, amanatun wathoniyah (amanat kebangsaan). Mengutip wasiat KH. Hasyim Asy’ari, “Hubbul Wathon Minal Iman” (Cinta tanah air sebagian dari iman), Ustadz Khoeru mengajak jamaah untuk merawat Indonesia. Hal ini bisa diwujudkan dengan menghargai perbedaan suku, agama, budaya, serta menjaga kebersihan lingkungan.

Menutup taushiyahnya, Ustadz Khoeru mengingatkan pentingnya tsiqah (percaya) kepada ulama. “Ulama anu mawa, urg anu milu” (Ulama yang membawa/memimpin, kita yang mengikuti), tuturnya, menegaskan bahwa berada di barisan ulama—meskipun di gerbong paling belakang—akan membawa keselamatan.

Semangat Kebersamaan dan Jamuan Umat
Selain materi pengajian, nilai sosial juga ditekankan oleh tokoh masyarakat sekaligus Pimpinan Pondok Pesantren Al Ikhlas Manarul Huda, Kiai Adang Kamaludin. Ia menyoroti keutamaan ith’amut tha’am (memberi makan).

“Maknanya luas, bukan sekadar memberi makan, tapi memuliakan tamu dan jamaah. Barang siapa mengumpulkan jamaah, menyediakan hidangan, lalu diisi dengan amar ma’ruf nahi mungkar, niscaya ia masuk surga dengan selamat,” ujar Kiyai Adang. Ia pun mengimbau para Ketua RT dan RW untuk terus menggerakkan warga dalam menjamu jamaah pada setiap kegiatan keagamaan.

Sementara itu, Ketua DKM Al Ikhlas, Didin Rosyidin, menyampaikan apresiasi mendalam kepada seluruh tokoh masyarakat dan warga Kampung Paninggaran yang telah berkontribusi mensukseskan acara ini.

Regenerasi Kepengurusan
Di pengujung acara, Rois Syuriyah NU Ranting Mekarjaya, Ustadz Entis, menyampaikan rasa terima kasihnya kepada seluruh elemen masyarakat dan pemerintah desa yang setia mendukung kegiatan NU.

Dalam momen penuh haru tersebut, Ustadz Entis juga berpamitan seiring berakhirnya masa khidmah kepengurusan. Ia berharap agenda Musyawarah Ranting yang dijadwalkan pada Minggu (23/11/2025) dapat melahirkan struktur kepengurusan baru yang lebih progresif dan amanah untuk masa depan NU Desa Mekarjaya.

Pewarta: Deden Syamsu Romli