Penulis : Ajengan Yayan BunyaminKetua MDS Rijalul Ansor Jabar
Di sebuah ruang baca yang sunyi, saya membayangkan duduk berhadapan dengan Max Weber.
Di tangannya terbuka buku yang telah lama membentuk perbincangan tentang agama dan ekonomi: The Protestant Ethic and the Spirit of Capitalism.
Ia tidak tampak seperti seorang penghakim. Lebih seperti pengamat yang sabar terhadap sejarah.
“Dalam pengamatan saya,” katanya pelan, “askese Protestan melahirkan disiplin dan rasionalitas. Kerja menjadi panggilan. Ia bukan sekadar mencari nafkah, melainkan ekspresi kesungguhan iman.”
Saya mengangguk. Sulit menolak fakta sejarah: modernitas Barat tumbuh bersama etos kerja yang teratur, hemat, dan sistematis. Waktu dipandang sebagai amanah yang tak boleh terbuang. Hidup diukur oleh produktivitas.
“Tapi,” saya bertanya perlahan, “apakah kerja selalu lahir dari kecemasan akan keselamatan?”
Weber tersenyum tipis. “Bukan kecemasan semata. Lebih pada kesadaran bahwa waktu terbatas, dan hidup harus digunakan secara produktif.”
Jawaban itu matang. Namun saya teringat satu ayat sederhana dalam Islam: “Dan bahwa manusia tidak memperoleh selain apa yang telah diusahakannya.” (QS. An-Najm: 39).
Dalam Islam, kerja bukan pembuktian bahwa seseorang termasuk golongan yang terpilih. Ia adalah konsekuensi menjadi manusia. Ikhtiar adalah tanggung jawab, bukan tanda keselamatan.
Weber menatap lebih dalam.
“Namun dunia Islam tidak melahirkan kapitalisme rasional seperti Eropa.”
Pertanyaan itu jujur.
“Mungkin,” jawab saya pelan, “karena Islam tidak pernah memuja akumulasi sebagai tanda keselamatan. Ia mendorong kepemilikan, tetapi sekaligus membatasi dan menyucikannya.”
Islam mengizinkan perdagangan. Nabi Muhammad adalah pedagang. Banyak sahabatnya kaya. Tetapi kekayaan dalam Islam selalu diikuti pagar: halal dan haram. Diikuti kewajiban: zakat. Diikuti kesadaran: amanah.
Harta tidak pernah dibiarkan netral.
Jika dalam etika Protestan kerja menjadi tanda panggilan (calling), maka dalam Islam kerja adalah amanah. Tetapi amanah itu tidak berhenti pada proses mencari. Ia berlanjut pada cara memiliki.
Modernitas mengajarkan kita bekerja lebih efisien, lebih terukur, lebih produktif. Kita diajari bagaimana memaksimalkan laba dan memperluas jaringan. Namun modernitas jarang mengajarkan satu hal yang lebih halus: kapan harus merasa cukup.
“Kita hidup,” lanjut saya, “di zaman di mana keberhasilan diukur oleh pertumbuhan. Tetapi pertumbuhan tanpa penyucian sering kali hanya memperbesar kegelisahan.”
Weber tidak menyela.
Dalam Islam, harta bukan sekadar hasil. Ia adalah ujian. Zakat bukan sekadar kewajiban sosial; ia adalah mekanisme penyucian. Wakaf bukan sekadar filantropi; ia adalah penataan ulang makna kepemilikan. Sedekah bukan sekadar kebaikan; ia adalah latihan membebaskan diri dari dominasi benda.
“Jadi perbedaannya bukan pada kerja kerasnya?” tanya Weber akhirnya.
“Bukan,” jawab saya. “Islam tidak alergi pada kerja keras. Tetapi ia lebih cemas pada ketidakadilan daripada pada kemiskinan. Ia lebih takut pada kezaliman daripada pada kegagalan.”
Kapitalisme modern melatih kita untuk takut tertinggal. Islam melatih kita untuk takut melampaui batas.
Kita telah belajar bekerja tanpa lelah, tetapi belum tentu belajar memiliki tanpa kehilangan diri.
Kalimat itu mengendap di antara kami.
“Masalah zaman ini mungkin bukan kurangnya etos kerja,” saya melanjutkan, “melainkan kurangnya etika kepemilikan.”
Karena harta yang tidak disucikan jarang merusak dengan keras. Ia tidak selalu datang sebagai badai. Ia lebih sering seperti arus tenang yang perlahan menggeser arah hidup—membuat ambisi terasa wajar, membuat ketamakan tampak rasional, membuat kelebihan terasa pantas.
Islam tidak menolak pasar. Ia hanya menolak pasar tanpa rem moral. Ia tidak memusuhi pertumbuhan. Ia hanya menuntut keadilan sebagai batasnya.
Di antara kapitalisme dan penyucian, kita berdiri di zaman yang serba cepat. Kita bekerja lebih keras dari generasi sebelumnya. Kita memiliki lebih banyak. Kita bergerak lebih jauh. Namun satu pertanyaan tetap sunyi: apakah kita juga semakin jernih?
Modernitas telah memberi kita etos kerja.
Tetapi Islam menuntut sesuatu yang lebih dalam: etika kepemilikan.
Di sana, harta tidak hanya dihitung, tetapi ditata.
Tidak hanya dikembangkan, tetapi disucikan.
Tidak hanya dimiliki, tetapi dipertanggungjawabkan.
Jika etos kerja membentuk produktivitas, maka penyucian harta membentuk peradaban.
Dan barangkali, di situlah kita perlu memulai kembali.







