Iṣlāḥ al-Māl: Dari Kepemilikan Menuju Penyucian

15

Peradaban jarang runtuh karena kemiskinan.
Ia lebih sering retak di puncak kemakmuran—ketika kekayaan bertambah, tetapi kejernihan hati berkurang.

Di era saldo digital dan perlombaan akumulasi tanpa henti, pertanyaan itu kembali menggema: apakah kita benar-benar memiliki harta, atau harta yang perlahan memiliki kita?

Ketika Kelimpahan Menguji Manusia
Setiap zaman memiliki ujiannya sendiri. Ada masa ketika manusia diuji dengan kekurangan. Tetapi ada masa—dan sering kali lebih berbahaya—ketika ia diuji dengan kelimpahan.

Sejarah memperlihatkan, kehancuran tidak selalu datang dari kelaparan. Ia sering bermula dari keberlimpahan yang kehilangan arah moral.

Dalam konteks itulah Iṣlāḥ al-Māl ditulis oleh Ibn Abī al-Dunyā (w. 281 H), ulama besar era Abbasiyah. Ia hidup di masa ketika Baghdad menjadi pusat ekonomi dunia Islam: perdagangan berkembang, kelas saudagar tumbuh, dan kepemilikan menjadi simbol status sosial.

Ia tidak menolak kekayaan. Ia tidak menyeru umat meninggalkan pasar. Ia hanya mengajukan pertanyaan yang lebih dalam: bagaimana manusia tetap merdeka ketika harta berada di tangannya?

Setelah Harta Dimiliki
Berbeda dari fikih muamalah yang menata sah-tidaknya transaksi, Iṣlāḥ al-Māl berbicara tentang sesuatu yang lebih halus: apa yang terjadi setelah harta dimiliki.

Di sanalah ujian sebenarnya dimulai.

Harta tidak pernah sepenuhnya netral. Ia memperbesar apa yang telah ada di dalam diri. Jika hati lapang, ia menjadi sarana kebaikan. Jika hati gelisah, ia memperluas kegelisahan.

Ibn Abī al-Dunyā menyusun hadis, atsar, dan kisah generasi awal Islam bukan untuk mengajarkan kemiskinan, tetapi untuk mengajarkan kemerdekaan batin. Para sahabat memiliki, berdagang, bahkan kaya—tetapi tidak diperbudak oleh kepemilikan.

Qana‘ah bukan berhenti berusaha. Ia adalah disiplin agar usaha tidak berubah menjadi obsesi.

Cermin bagi Zaman Kita
Hari ini, literasi finansial berkembang pesat. Orang belajar investasi, manajemen aset, dan strategi pertumbuhan. Namun satu hal sering terlewat: literasi batin.

Tanpa kesadaran, kecerdikan ekonomi hanya melahirkan kecemasan yang lebih canggih.

Iṣlāḥ al-Māl tidak memberi kita teknik memperbanyak harta. Ia memberi kita keberanian untuk bertanya: apakah harta membuat kita lebih tenang, atau hanya lebih takut kehilangan?

Peradaban tidak runtuhl ketika uang beredar banyak.
Ia runtuh ketika manusia kehilanganl kendali atas apa yang dimilikinya. Dan di titik itulah kitab ini menjadi cermin bagi zaman kita.

Penutup
Sebelum bertanya berapa yang telah kita kumpulkan, mungkin kita perlu bertanya: apakah jiwa kita masih utuh di tengah kepemilikan?

Karena pada akhirnya, yang paling menentukan bukan seberapa besar harta berada di tangan kita, tetapi seberapa besar hati kita tetap bebas darinya.

Dan jika seluruh pesan Iṣlāḥ al-Māl diringkas dalam satu kalimat, mungkin ia berbunyi seperti ini:

“Harta yang tak disucikan tidak pernah datang sebagai badai; ia hadir seperti arus tenang yang perlahan membawa jiwa menjauh dari dirinya sendiri.”

Di situlah peringatan sekaligus harapan.
Bahwa harta bisa menjadi cahaya—
atau menjadi tirai yang menutup cahaya.

Oleh : Kang Ajengan Yayan