Ansor Itu Sudah Ada Sejak Madinah

50

Oleh KH Yayan Bunyamin

Tentang empat jenis kader yang selalu muncul di setiap rapat

Kalau kita membaca sejarah Islam dengan agak santai, kita akan menemukan sesuatu yang menarik.

Ternyata Ansor itu sudah ada sejak Madinah.
Bukan organisasi tentu saja.
Bukan juga struktur kepengurusan.
Tapi jenis manusianya.

Karena kalau kita perhatikan dengan jujur, hampir setiap rapat kader Gerakan Pemuda Ansor selalu diisi oleh empat tipe manusia yang sama.

Di mana pun rapat itu digelar. Di ranting desa. Di kecamatan. Sampai acara besar tingkat nasional. Empat tipe ini hampir tidak pernah absen.

Lucunya, kalau kita membuka sejarah Madinah, kita menemukan bahwa empat tipe manusia ini ternyata sudah ada sejak zaman Nabi SAW.

  1. Tipe Pemimpin

Orang yang Baru Bicara, Suasana Ruangan Langsung Berubah.

Di Madinah ada tokoh Ansar besar bernama
Sa’d ibn Mu’adh.

Begitu ia masuk Islam, hampir seluruh sukunya ikut masuk Islam. Pengaruhnya sangat besar. Kalau dia bicara, orang mendengarkan.

Di forum kader hari ini, tipe seperti ini juga selalu ada.
Biasanya ia tidak terlalu banyak bicara.
Tapi begitu ia membuka kalimat:
“Saya kira kita harus mulai memikirkan masa depan organisasi…”
Suasana ruangan langsung berubah.
Yang tadinya santai langsung duduk tegak.
Yang tadinya main HP pelan-pelan menyimpan HP.

Dan beberapa orang di ruangan mulai merasakan firasat yang sama:
“Wah… sebentar lagi saya jadi panitia.”
Karena pengalaman kader mengajarkan satu hukum alam sederhana:
Kalau seseorang mulai bicara tentang masa depan organisasi, biasanya orang lain mendapat masa depan sebagai panitia.

  1. Tipe Penyelamat Acara

Orang yang Datang Diam-Diam, Tapi Menyelamatkan Segalanya.

Kaum Ansar juga memiliki tokoh dermawan besar bernama
Sa’d ibn Ubadah.

Rumahnya terkenal selalu terbuka bagi tamu. Siapa pun datang akan dijamu.

Di Madinah dulu jamuannya kurma dan daging. Di organisasi modern bentuknya sedikit berbeda. Biasanya begini.
Panitia sudah bekerja keras.
Poster sudah naik.
Acara tinggal beberapa hari.
Lalu bendahara berkata dengan suara yang sangat pelan:
“Teman-teman… dana kita masih kurang.”
Ruangan langsung hening.

Beberapa detik kemudian semua orang pelan-pelan menoleh ke satu orang yang sama.
Orang itu biasanya pura-pura sibuk melihat HP.
Lalu beberapa menit kemudian terdengar bunyi kecil yang sangat menenangkan:
ting.
Transfer masuk.
Acara pun terselamatkan.

Setiap organisasi hampir selalu memiliki satu orang seperti ini.
Dia jarang pidato.
Jarang tampil di panggung.
Tapi kalau dia tidak ada…
acara bisa berubah menjadi rapat doa bersama.

  1. Tipe Intelektual

Orang yang Bisa Mengubah Rapat Jadi Kuliah Peradaban

Di antara sahabat Ansar ada ulama muda yang sangat cerdas:
Mu’adh ibn Jabal.

Ilmunya sangat dalam.
Nabi bahkan mengutusnya menjadi guru di Yaman. Artinya sejak awal Islam menghargai kader yang berpikir.

Di Ansor juga ada tipe seperti ini.
Biasanya mereka punya:
rak buku yang penuh
referensi panjang
kemampuan menjelaskan sesuatu dengan sangat detail. Masalahnya hanya satu, kalau orang seperti ini mulai bicara…
rapat yang tadinya ingin membahas spanduk kegiatan bisa berubah menjadi diskusi peradaban.

Topiknya bisa melompat dari:
fiqh
→ sejarah Islam
→ teori peradaban
→ masa depan dunia Islam.
Satu jam kemudian seseorang biasanya akan bertanya dengan wajah bingung:
“Maaf… tadi kita rapat tentang apa ya?”

  1. Tipe Penghangat Suasana

Orang yang Membuat Semua Tetap Tertawa

Kaum Ansar juga punya satu sahabat yang sangat unik:
Nu’ayman ibn Amr. Dia terkenal sangat humoris.

Salah satu kisah yang terkenal, ia pernah menjual temannya sendiri di pasar sebagai candaan.
Temannya tentu marah.
Tapi ketika cerita itu sampai kepada Nabi, beliau tertawa.

Artinya bahkan di komunitas yang sedang membangun peradaban seperti Madinah, orang yang membuat orang lain tertawa tetap dibutuhkan.
Karena perjuangan yang terlalu tegang biasanya cepat melelahkan.
Dan hampir setiap forum kader selalu punya satu orang seperti ini.
Orang yang tugasnya sederhana:
mengingatkan bahwa rapat organisasi bukan sidang akhir zaman.

Tapi Ada Satu Hal yang Harus Dijaga
Nu’aiman menjual temannya di pasar… itu bercanda.
Hari ini kadang ada yang menjual kadernya sungguhan.

Biasanya fenomena ini muncul setiap lima tahun sekali.
Awalnya forum kader penuh semangat.
“Ansor harus solid!”
“Ansor harus menjaga marwah!”
Semua tepuk tangan.
Lalu tiba-tiba muncul bisikan kecil:
“Suara kader bisa diarahkan…”
“Tenang… nanti ada paketnya.”

Di titik ini kadang kita baru sadar.
Yang dijual bukan kambing.
Bukan juga unta.
Yang dijual adalah kepercayaan kader.
Dan itu jauh lebih mahal daripada unta di pasar Madinah.

Karena Itu Ansor Tidak Butuh Kader yang Sama
Sejarah kaum Ansar mengajarkan satu hal sederhana.
Komunitas besar tidak dibangun oleh satu jenis manusia saja.
Ada yang memimpin.
Ada yang memberi.
Ada yang berpikir.
Ada yang membuat orang tetap tertawa.
Semua penting.
Dan kalau kita jujur melihat forum kader hari ini, empat tipe sahabat Ansar itu masih ada.

Di antara kader
Gerakan Pemuda Ansor.
Bedanya hanya satu.
Dulu mereka membangun Madinah.
Sekarang…
kitalah yang menjaga Ansor tetap hidup. ✊