Air sebagai Medium Doa: Dari Eksperimen Emoto hingga Amalan Rebo Wekasan

24

Hari berganti hari, bulan berganti bulan, hingga tibalah saatnya kita berada di penghujung bulan Safar. Bulan Safar dalam tradisi Islam sering dikaitkan dengan berbagai perbincangan mengenai 320.000 penyakit/bala dan 20.000 musibah. Keyakinan ini kemudian melahirkan sejumlah amalan, doa, dan wirid yang bertujuan memohon perlindungan kepada Allah Swt.

Dalam tradisi pesantren, amalan-amalan semacam ini umumnya dipahami dalam bingkai mujarrabāt. Artinya, ia bukan ajaran yang bersumber dari dalil qath‘ī (pasti) seperti hadis sahih, melainkan pengalaman spiritual yang diriwayatkan para wali dan ulama sufi. Karena itu, kedudukannya tidak sama dengan sunah muakkadah atau ibadah yang baku.

Salah satu kitab yang berisi himpunan zikir dan doa al-ma’tsūr yang ditulis dengan model ketentuan waktu adalah Kanzun Najāḥ was Surūr fil Ad‘iyyah al-Ma’tsūrah allati Tasyrahus Shudūr, atau dalam bahasa Indonesia berarti Himpunan Harta Karun Keberhasilan dan Kebahagiaan dalam Doa-Doa yang Melapangkan Hati, karya Abdul Hamid bin Muhammad al-Makki asy-Syafi’i, atau dikenal sebagai Syekh Abdul Hamid Kudus. Dalam kitabnya ia mengatakan:

“Maka barang siapa yang menginginkan keselamatan dan perlindungan dari itu, hendaknya ia berdoa pada hari pertama bulan Safar, demikian pula pada Rabu terakhir di bulan tersebut dengan doa ini. Barang siapa yang berdoa dengan doa ini, Allah Swt. akan menolak dari dirinya keburukan bala tersebut.”

Sebagian umat Islam di Nusantara mempunyai amalan yang menjadi tradisi pada malam Rebo Wekasan. Di antara amalan tersebut adalah:

  1. Salat sunah hajat (li daf‘il balā’).
  2. Membaca Surah Yasin (sampai pada ayat “Salāmun qawlan min rabbir rahīm” dibaca sebanyak 11 kali/313 kali, lalu dilanjutkan ayat setelahnya sampai selesai).
  3. Membaca doa (salawat munjiyat).
  4. Menulis tujuh ayat Salāmun.
    Disebutkan dalam kitab Kanzun Najāḥ was Surūr:

“Barang siapa yang menulis ayat Salāmah tujuh, yaitu tujuh ayat Al-Qur’an yang diawali dengan lafal Salāmun:
Salāmun qawlan mir rabbir rahīm
Salāmun ‘alā Nūḥin fil ‘ālamīn
Salāmun ‘alā Ibrāhīm
Salāmun ‘alā Mūsā wa Hārūn
Salāmun ‘alā Āli Yāsīn
Salāmun ‘alaikum thibtum fa-dkhulūhā khālidīn
Salāmun hiya hattā mathla‘il fajr

Kemudian tulisan tersebut dilebur/direndam dalam air, maka barang siapa yang meminum air tersebut akan diselamatkan dari bala yang diturunkan.”

Menelisik Penelitian Emoto dan Tradisi Islam

Bagaimana penelitian Dr. Masaru Emoto tentang air menemukan resonansi dalam tradisi Islam, dari ayat-ayat Al-Qur’an hingga amalan Rebo Wekasan?

Air adalah sumber kehidupan. Namun, bagi banyak tradisi, termasuk Islam, air bukan sekadar cairan penghilang dahaga, melainkan medium spiritual yang membawa doa dan keberkahan. Dr. Masaru Emoto, peneliti asal Jepang, dalam bukunya The Hidden Messages in Water menyebutkan bahwa air mampu “menyimpan” energi dan merespons pikiran, kata-kata, bahkan doa manusia. Ia menulis:

“Water has a memory and carries within it our thoughts and prayers.”
(“Air memiliki ingatan dan membawa di dalamnya pikiran serta doa kita.”)

Eksperimen Emoto menunjukkan bahwa air yang diberi doa, kata-kata baik, atau lantunan musik indah membentuk kristal es yang indah dan simetris. Sebaliknya, air yang terkena kata-kata kasar membentuk kristal yang pecah dan tidak beraturan.

Pandangan Emoto menemukan resonansi dalam tradisi Islam, di mana air sejak lama digunakan sebagai media penyembuhan dan doa. Al-Qur’an sendiri menyebut air sebagai sumber kehidupan:

“Dan Kami jadikan dari air segala sesuatu yang hidup.” (QS. Al-Anbiya: 30)

Para ulama dan masyarakat Muslim Nusantara kerap mempraktikkan penulisan ayat-ayat Al-Qur’an pada kertas, lalu kertas itu dimasukkan ke dalam air, atau ayat-ayat dibacakan langsung kepada air. Air tersebut kemudian diminum atau dipercikkan sebagai bentuk ikhtiar memperoleh keberkahan, ketenangan, dan perlindungan dari Allah Swt.

Tradisi ini menunjukkan keyakinan bahwa kalam Ilahi mampu “menyentuh” air, serupa dengan gagasan Emoto bahwa kata-kata dan doa dapat meninggalkan jejak dalam struktur air.

Penelitian Dr. Masaru Emoto dan tradisi Islam di Nusantara bertemu pada satu titik: air adalah saksi dan penyimpan doa. Jika kata-kata baik bisa membentuk kristal indah dalam eksperimen ilmiah, maka bacaan Al-Qur’an dan doa tulus yang dibacakan umat beriman tentu lebih dahsyat lagi pengaruhnya.

Sebagaimana kata Emoto dalam bukunya:

“If you feel love and gratitude, water will respond and give back to you in the form of beautiful crystals.”

Dan sebagaimana firman Allah:

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku kabulkan doa orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku.” (QS. Al-Baqarah: 186)

Dengan menjaga kesucian hati, niat, dan doa, kita menjaga air tetap menjadi medium keberkahan. Rebo Wekasan pun bukan sekadar tradisi, tetapi ikhtiar spiritual untuk mengingatkan kita akan kuasa Allah, Sang Pemberi Kehidupan.

Pesantren biasanya menempatkan amalan semacam ini pada wilayah fadā’il al-a‘māl (amalan-amalan tambahan), sambil tetap menekankan akidah tauhid: bahwa yang memberi manfaat dan mudarat hanyalah Allah Swt. semata.

Bagi umat Islam, doa merupakan senjata dan harapan. Doa juga merupakan bentuk ibadah, memuji Allah, serta mengakui kebaikan dan anugerah yang telah diberikan-Nya. (Ath-Thabrani, Kitabud Du‘a, [Beirut: Darul Basyā’ir al-Islāmiyyah, 1987], jilid I, hlm. 53)

Dengan demikian, penting bagi kita mengambil sisi positif dari amalan ini, yaitu semangat memperbanyak doa, zikir, dan salawat. Rebo Wekasan adalah bentuk tawassul, yakni mendekatkan diri kepada Allah, sedangkan air menjadi medium yang menyalurkan doa tersebut.

Ketika masyarakat Muslim Indonesia mengamalkan doa-doa pada Rebo Wekasan, sesungguhnya mereka sedang menegaskan keyakinan bahwa doa yang tulus mampu menembus alam semesta, bahkan air yang mereka gunakan. Air tidak lagi sekadar cairan penyegar, melainkan medium spiritual yang membawa pesan keberkahan dalam wujud ketenangan jiwa.

Penulis: Syifa Hayati Islami, M.Sos.
Fatayat NU Cipanas – Cianjur.
Dosen Tetap dan Sekretaris Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam, Fakultas Dakwah Institut Agama Islam Sukabumi (IAIS).